Pertuni DKI Jakarta

NOTE: To use the advanced features of this site you need javascript turned on.

Choose Language

PERNYATAAN SIKAP PERSATUAN TUNANETRA INDONESIA (PERTUNI) PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 20 September 2010 05:59

PERNYATAAN SIKAP

PERSATUAN TUNANETRA INDONESIA (PERTUNI)

ATAS TRAGEDI MENINGGALNYA SEORANG TUNANETRA

PADA ACARA OPPEN HOUSE PRESIDEN RI

DI ISTANA NEGARA, 10 SEPTEMBER 2010

 

1.   Pertuni menyatakan turut berbela sungkawa atas meninggalnya Sdr. Joni Malela, pada pelaksanaan Open House Presiden RI di Istana Negara 10 Setember 2010. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

2.   Pertuni mengucapkan terima kasih dan menyampaikan apresiasi Kepada Presiden RI atas berkenannya menerima para Tunanetra untuk menghadiri Open House yang diselenggarakan.

3.   Terlepas dari apa penyebab yang sesungguhnya dari meninggalnya Sdr. Joni Malela tersebut, Pertuni menyesalkan tragedi tersebut, dan kiranya hal ini tidak akan terulang dimasa mendatang.

4.   Pertuni menghimbau kepada semua pihak agar kiranya peristiwa tersebut tidak diperbesar dan tidak dipolitisir untuk hal-hal yang mengarah pada kepentingan tertentu. PERTUNI berpendapat bahwa peristiwa 10 September tersebut tidak lebih dari persoalan mentalitas sosial dan moralitas kultural masyarakat indonesia.

5.   Dalam hal pelaksanaan Open House tahun mendatang, hendaknya pihak Istana dapat meningkatkan pengamanan bagi para peserta, terlebih bagi kalangan berkebutuhan khusus seperti Tunanetra.

6.   Pertuni mengusulkan kepada Bapak Presiden RI agar pada pelaksanaan Open House selanjutnya, hendaknya tidak dibarengi dengan pemberian santunan dan semacamnya, yang dapat mengurangi makna silaturahmi dan melenceng dari makna Idul Fitri. PERTUNI berpendapat hal tersebut tidak memberikan pendidikan moral, sebaliknya justru menimbulkan mentalitas kemiskinan di tengah masyarakat.

7.   Apabila selaku Presiden RI bermaksud tetap melanjutkan pemberian santunan, Infaq, Sodaqoh, zakat dan semacamnya, Pertuni mengusulkan agar kiranya dapat dilakukan dengan cara yang elegan yang lebih menghormati martabat kalangan tunanetra. Dalam hal ini PERTUNI mengusulkan agar pelaksanaan pembagian tersebut dapat diserahkan pengelolaannya kepada lembaga ketunanetraan dengan tetap melakukan koordinasi dengan pihak Istana.

8.   Jika bantuan tersebut berorientasi pada upaya peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan secara lebih nyata, hendaknya kepedulian tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penyediaan lapangan kerja dan kesempatan kerja bagi tunanetra.

 

9.   Pertuni menghimbau kepada segenap Tunanetra agar tidak menodai makna silaturahmi  di hari Idul Fitri dengan hal-hal yang bersifat materi, duniawi dan charity, terlebih sampai meninggalkan ibadah sholat idul fitri dan kewajiban sholat jumat untuk hal tersebut. lebih dari itu, agar kalangan tunanetra tetap mengedepankan etika dan martabat kaum tunanetra, serta menghargai Istana sebagai simbol Negara.

 

 

Jakarta, 17 September 2010

 Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) DKI


       ttd

 ( DR. Didi Tarsidi, M.Pd. )

 

Add comment


Security code
Refresh